Sore ini, Maycita sudah bisa menikmati suasana kamarnya. Pagi tadi dia sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan dan untungnya sore ini dia sudah bisa pulang. Kembali ke kamarnya, sunyi, memang suasana seperti ini membuat tenang, tapi bagi gadis yang kerap disapa May ini, kamar ini membuat pikiran dia berkecamuk. Tangannya meraba mengambil ponsel lalu jemarinya mulai mengetik.
Maycita: "Gue bosen"
Cia: "Kenapa sih? Hati lo sepi kali hahaha"
Maycita: "Sial. Hati gue ga sepi, banyak sih yang dateng pergi, dikira gue halte"
Cia: "Yah lo sendiri sih yang jadiin diri lo halte. Gimana orang memperlakukan kita tuh ya gimana kita mau diperlakuin sama mereka. Kita ngasih izin gak buat digitu dan diginiin"
Hening. Cia, sahabatnya yang selalu setia mendengar semua keluhan May selama ini, tanpa kenal waktu dan bosan. Cia selalu netral di setiap permasalahan yang dihadapi May, itu alasan kenapa May lebih memilih untuk membuang semua keluh kesahnya ke Cia. Lagi dan lagi, kata-kata Cia selalu berhasil membuat May ceming seketika. Entah karena itu benar atau menusuk, justru itu yang membuat May membuka matanya lebih luas lagi tentang kehidupan. Malas berpikir, May memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
Malam pun datang, May dikelilingi lembaran kertas. Menjadi mahasiswa di bidang design memang mengharuskannya untuk berkutat dengan lembaran kertas dan goresan diatasnya. Tapi malam itu dia mendapat tugas yang tidak biasa, sulit dan dia hampir menyerah diantara lembaran kertas yang berserakan itu. Ponsel May berbunyi, tanda ada pesan masuk, dari Sam. Akhir-akhir ini May dekat dengan Sam. Kampus mereka yang berdekatan menjadi salah satu faktor kedekatan mereka.
Sam: "May"
Maycita: "Ya?"
Sam: "Lagi apa?"
Maycita: "Lagi nugas nih. Lo?"
Ya, seperti biasa, Sam selalu singkat padat dan jelas kalau mengirim SMS. Tidak ada basa basi. Ponsel May berdering, kali ini panggilan masuk dari Sam. May meletakkan pensil yang daritadi menemaninya lalu menerima panggilan itu.
May: "Halo?"
Sam: "Woy...lagi apa lo?"
May: "Masih nugas nih"
Sam: "Sambil ngapain?"
May: "Nonton, main yaa gitu deh hehehehe"
Sam: "Tugasnya masih banyak?"
May: "Masih dan gue hampir nangis ngerjainnya"
Sam: "Hahaha mangat ya. Gue temenin deeh sampe selesai"
Obrolan itu terus berlanjut, May sambil melanjutkan tugasnya. Suasana kamar yang semula sunyi berubah menjadi ramai. Obrolan dan tawa May dengan Sam terdengar ke seluruh sudut kamar. Mereka bergantian cerita seolah-olah tidak akan pernah kehabisan topik untuk dibahas. Begitulah Sam, dia lebih menyenangkan bila bertemu langsung ataupun mengobrol, berbanding terbalik dengan SMS tadi. Tak terasa, sudah 2 jam mereka mengobrol di telepon, tapi tugas May tak kunjung selesai. Sesuai janji Sam tadi, dia akan menemani May mengerjakan tugasnya hingga selesai padahal jarum jam sudah melewati angka 12 dan nanti dia ada kuliah pagi.
May:"Tidur duluan gih lo. Besok kan lo ada kuliah pagi"
Sam:"Aah bawel ah. Udah selesaiin aja sana dulu"
May:"Udah ngantuk kan lo?"
Sam:"Enggak sih beloman. Tugasnya masih banyak?"
May:"Masih hiks"
Sam:"Nanti kalo udah selesai foto yaaaa"
May:"Iyaa ah tapi berantakan ah malu"
Sam:"Udah gapapa koook"
May:"Udah sana tiduur. Besok kesiangan loh"
Sam:"Gue tidur jam 3 gue bakal tetep bangun pagi juga kok tenang aja. Besok paling berangkat mepet aja"
Suara Sam sudah berubah menjadi lebih lemah, May tahu Sam sudah mengantuk tapi Sam tetap tidak mengaku padahal sudah berulang kali May menyuruh dia tidur duluan. Sam sudah banyak diam, tak seaktif diawal pembicaraan. May juga semakin merasa tidak enak dengan Sam dan berusaha secepat mungkin menyelesaikan tugasnya. Jarum jam hampir menuju ke angka 1 dan May berhasil menyelesaikan tugasnya.
May:"HAAA UDAH SELESAII!!"
Sam:"Udah?"
May:"Iyaaa. Bobo yuk!"
Sam:"Yaudah yuk"
(hening..)
Sam:"May..."
May:"Yaaa?"
Sam:"Mau dimatiin apa bawa tidur nih?"
May:"Huahahaha bebas"
(hening..)
Sam:"Heh jangan senyum-senyum sendiri gitu ah"
May:"Eng.....gak kok"
Faktanya, May memang sedang senyum-senyum sendiri. Tidak diduga malam ini ditemani Sam hingga tugasnya selesai. Tidak hanya itu, Sam yang ternyata bisa menggambar bahkan lebih handal dari May juga membantu memberi saran apa yang harus dilakukan May pada tugasnya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan ini, malam terasa panjang dengan obrolan dan tawa, meskipun hanya lewat suara, tapi itu lebih dari cukup bagi May. Setelah hening beberapa saat seperti remaja yang saling tidak mau menutup telepon.
Sam:"Good night May"
May:"Iyaa. Dadaaah"
Sam:"Udah nih dadah doang?"
May:"Hahaha makasih yaa udah ditemenin ngerjain tugas. Met bobo yaaa"
Sam:"Hehehe iyaa. Besok kabar-kabaran aja ya. Dadaaah"
Malam itu pun berakhir dengan senyuman dan wajah bahagia May. Tapi dia gelisah, memeluk guling di sampingnya. Ada perasaan takut, takut yang tiba-tiba menyelimuti perasaannya. Sambil menyebut nama Sam, dia gemetar, air matanya turun deras seketika, tangis pun pecah. "Takut...." gumamnya di dalam tangis. May takut jatuh. May merasakan hal yang tidak biasa. Jantungnya berdebar saat percakapan akhir sebelum menutup telepon tadi dengan Sam. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. May harus menahan dan melawan itu, pengalaman sebelum ini membuat dia takut untuk merasakan hal ini lagi. Dia melawan sebisa mungkin, memang sulit tapi dia harus melakukan itu. Akhirnya, mata yang sembab itu meredup dan May tertidur setelah malam yang panjang ini.
October 22, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment