October 21, 2013

Malam dengan Senja

Posted by Annisa Rizki Erastiani at 2:24 PM
Sepi. Sunyi. Itu yang dirasakan Raihanun, yang akrab dipanggil Rai. Bukan keadaan sekitarnya, melainkan hatinya. Tidak perlu mencari tau apa penyebabnya, karena dia sendiri juga tidak tau mengapa. Dia gadis biasa yang hidup seperti layaknya gadis remaja yang mencoba untuk pindah ke fase dewasa. Ya, dia pernah merasakan bagaimana pahitnya berpisah atau bahkan, sering. Berpisah dengan orang yang sudah mengisi harinya berpuluh-puluh hari, saling berbagi, saling mengisi. Ya, sudah biasa. Tapi kali ini berbeda, bukan karena orang ketiga, bukan karena keluarga, tapi ini dari diri dia sendiri. Entah karena lelah, ingin menjelajah atau terlalu resah untuk maju ke depan dengan orang yang dia miliki sekarang. Dia menghadapi lagi. Menghadapi apa yang tidak diinginkan semua orang, yang dia sendiri tidak harapkan, perpisahan. Menutup rapat untuk yang lama, tapi dia belum berani membuka untuk yang baru. Mungkin bisa, tapi butuh waktu, dengan sekian banyak pelajaran yang sudah didapat selama ini.

Sore itu, kakaknya mengajak untuk berkenalan dengan temannya. Ya, hanya berkenalan. Mengingat sekarang seorang Rai yang sekarang telah berubah drastis menjadi cuek dan tidak semanis dulu lagi. Senja, nama teman kakak Rai. Orangnya tidak terlalu tinggi, tidak terlalu tampan, dari fisik, Senja memang terlihat biasa saja. Rai dan Senja berkenalan dalam pertemuan singkat itu. Lalu perkenalan mereka berlanjut di messenger. Hanya dalam satu malam, Rai bisa menilai kalau Senja adalah orang yang sama seperti dia, cuek. Meskipun begitu, Rai tetap berhubungan dengan Senja melalu messenger.

Setelah beberapa hari, Senja mengajak Rai untuk bertemu. Rai menerima ajakan Senja dengan berpikir bisa menghilangkan rasa penat dari berbagai kesibukannya. Mereka berencana untuk bertemu di sebuah cafe yang terletak di daerah strategis, mengingat jarak rumah mereka berdua yang terbilang cukup jauh. Namun entah bagaimana, tujuan mereka berpindah haluan, bukan ke tempat awal yang sudah disepakati, Senja  mengajak Rai melihat pertunjukan musik kesukaannya. Rai tertarik dengan ajakan itu, pengalaman baru, pikirnya.

Ramai lalu lalang para remaja memenuhi tempat itu, dari pintu masuk hingga di dalamnya. Rai yang takut keramaian hanya bisa pasrah, menggantungkan nasib pada Senja yang saat ini ada di sampingnya. Bagaimana bisa mereka hanya berdua di tempat seramai ini, biasanya Rai pergi ke tempat ramai seperti ini hanya dengan teman-temannya, itu pun paling sedikit tiga orang. Rai yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikuti langkah Senja. Sambil menunggu pertunjukan musik itu mulai, Senja mengajak Rai untuk mencari tempat yang agak sepi agar bisa duduk melepas lelah setelah menerobos keramaian.

"Gapapa nih duduk di bawah? Gapapa merakyat gini?" goda Senja ke Rai. "Hahahaha gapapa kok. Seru dari sini bisa liat banyak orang" jawab Rai. Mereka duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa karena lelucon Senja ke Rai ataupun sebaliknya. Rai bergumam dalam hatinya, Senja tidak secuek yang selama ini dia kenal.

Setelah menunggu agak lama, akhirnya pertunjukan itu dimulai, mereka mendekati panggung. Jujur, Rai memang sering mendengar dan melihat pertunjukan ini langsung sebelumnya, tapi Rai tidak terlalu hafal liriknya. Senja menyambut dengan sumringah saat musik dimulai. Rai yang berdiri di sebelah kanan Senja juga sumringah melihat ke arah panggung. Tak lama kemudian air menetes dari langit, gerimis. Senja melihat ke arah Rai,
Senja: "Gerimis nih, gapapa disini?"
Rai: "Gapapalah, baru mulai kan, masa neduh sih"(diiringi dengan senyum)
Senja: "Eh kok orang sekitar gue pada berduaan semua ya?"
Rai: "Ya emang kenapa, kan kita juga berdua"
Senja: "Maksudnya orang pacaran tau"
Rai: "Lha emang kenapa? Ngeledek lo ya? Jomblo sih"
Senja: "Hidih..."(melengos kesal)
Rai: "Eh lo hafal kan? Nyanyi dong!"
Senja: "Gamau ah"
Rai: "Ih gitu, yaudah"

Tak berselang lama, air yang menetes dari langit semakin banyak, hujan. Senja melihat lagi ke arah Rai yang sedang asyik melihat ke arah panggung.
Senja: "Hujan nih Rai"
Rai: "Iya nih. Terus kenapa?"
Senja: "Mau neduh apa disini?"
Rai: "Disini aja ah, kan tujuannya mau liat ini. Lagian masih ga terlalu deres kok"
Senja: "Geser sini pohonnya lebih rindang biar ga kena ujan"(sambil menarik lengan Rai)

Hujan semakin deras, Senja melihat lagi ke arah Rai yang masih asyik melihat panggung.
Senja: "Lo gabawa jaket atau apa gitu? Sapu tangan?"
Rai: "Jaket gabawa. Eh tunggu, gue kayaknya bawa saputangan"(merogoh tasnya)
Senja: "Tuh bawa, sini pake buat di kepala lo"(sambil memasang saputangan ke kepala Rai)

Rai masih asyik ke arah panggung sedangkan Senja sibuk melirik Rai berulang kali sampai akhirnya dia meletakkan tangannya ke atas saputangan yang ada di atas kepala Rai. Rai tersenyum tapi tetap melihat ke arah panggung. Senja mulai ikut bernyanyi mengikuti irama musik serta para penonton yang juga ikut bernyanyi bersama. Langit mungkin mendengar alunan musik yang menenangkan jiwa beserta liriknya yang menyentuh hati dinyanyikan dengan lantang oleh para penonton sehingga hujan turun semakin deras. Senja menawarkan Rai untuk berteduh, tapi Rai menolak. Dia masih ingin di tempat itu, menikmati suasana hujan diiringi lagu yang menurutnya menyejukkan jiwanya yang lagi tak menentu. Senja menangguk lalu meneruskan mengikuti syahdunya alunan musik dan menyanyikan liriknya. Hujan bertambah deras, Rai masih enggan berteduh. Senja akhirnya pindah berdiri ke belakang Rai, menaruh kedua sikunya di bahu Rai agar dia bisa menutupi kepala Rai dengan kedua tangannya. Rai merasakan Senja menaruh dagunya diatas kepala Rai. Rai yang terlalu asyik menikmati alunan lagu, tidak mempermasalahkan itu. Senja menyanyikan lagu mengikuti nyanyian penonton sekitar, tapi sekarang dia bernyanyi tepat di telinga Rai, seolah ia berkata untuk Rai.

"Malam jadi saksinya
Kita berdua diantara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian........"

Hujan lagi lagi bertambah deras. Rai masih enggan meneduh. Senja setengah memaksa tapi Rai tetap tidak mau. Penonton mulai berhamburan untuk mencari tempat berteduh. Senja masih pada posisinya yang sama, melindungi kepala Rai dari air hujan meskipun dia sudah mulai basah. Senja ikut bernyanyi lagi dengan penonton lainnya dan tepat di telinga Rai lagi untuk kedua kalinya. Tapi kali ini berbeda, Rai tahu dia bernyanyi dari hatinya. Tulus, bukan hanya ingin ikut bernyanyi bersama penonton lainnya.

"Aku ingin bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu........"

Rai bergetar. Terlalu meresapi alunan musiknya yang begitu menyayat hatinya. Rai merasakan dagu Senja diatas kepalanya, Senja mencium kepalanya. Rai semakin bergetar. Entah kenapa. Hujan pun berubah menjadi deras seketika, Senja menarik memaksa Rai untuk meneduh, akhirnya Rai melunak.
Mereka berteduh berbabur dengan yang lainnya. Senja sibuk mengeringkan dirinya, Rai hanya bisa memandangi Senja yang basah karena melindungi dirinya dari hujan. Senja memegang baju Rai, basah. Senja menepuk baju Rai yang basah dengan tissue agar basahnya berkurang. Rai hanya bisa tersenyum.

Tidak lama Rai meminta keluar dari tempat mereka berteduh itu, bosan. Tapi di luar masih hujan dan Rai tetap nekad. Senja melepas kemeja yang dipakainya, menutupi Rai dengan kemejanya dan menukar saputangan lalu dipakai untuk menutupi kepalanya.
Rai: "Loh ini gapapa? Nanti lo basah gimana?"
Senja: "Gapapa kok. Yang lain juga gitu kan tuh. Gue pake saputangan aja buat nutupin kepala."(sambil merangkul Rai)

Pertunjukan malam itu selesai, hujan juga ikut berhenti. Rai mengembalikan kemeja Senja lalu langsung dipakai kembali oleh Senja. Basah.
Rai: "Yah basah ya"
Senja: "Gapapa kok yang penting kan ini ga basah"(sambil mengelus kepala Rai)
Rai: "Ih liat deh kemeja lo yang basah sebelah kanan, baju gue yang basah sebelah kirinya, lucu ya"
Senja: "Itu tandanya kan saling mengisi hehehe"
Rai: "Garing ah hahaha"

Malam itu, begitu cepat. Tak terduga. Rai merasakan yang tidak biasa, tapi dia berusaha mengelak, tidak untuk saat ini, waktunya tidak tepat. "Lawan, Rai!", gumamnya dalam hati.
Malam itu menjadi pengalaman baru bagi Rai, pertama kali dengan orang yang tidak dia sangka sebelumnya, dia mendapat pengalaman termanis di hidupnya. Di bawah hujan, dengan orang yang baru dikenalnya beberapa hari terakhir, yang berusaha melindunginya dari hujan. Rai terus melawan meskipun sulit. Cukup baginya untuk jatuh dalam waktu singkat karena tak ingin lagi ada perpisahan dalam waktu singkat. Pengalaman sudah memberi banyak pelajaran bagi Rai. Biarkan dirinya tumbuh dengan sendirinya, yang sekarang harus dilakukan adalah memberanikan diri untuk tumbuh dan maju ke masa depan tanpa harus takut dan dibayangi kelebihan yang dimiliki orang lain.

0 comments:

Post a Comment

 

POKEISES Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos