“Brak!”,
terdengar bunyi bantingan pintu keras. Suara itu dari kamar Ciara yang sedang
mencari seragam sekolah swasta favorit di daerah Selatan itu. Sekolah yang
fasilitasnya nomor satu dan setara dengan sekolah di luar negeri. Tentu murid
di sekolah itu bukan orang sembarangan, tapi orang yang istimewa, salah satunya
Ciara.
Setelah menemukan
seragamnya, langsung ia mengambil kunci mobil dan langsung berangkat menuju ke
sekolah. Maklum, orang tuanya sibuk bekerja, jadi tidak perlu repot pamit
sebelum berangkat ke sekolah apalagi kakak laki-lakinya ada kelas pagi di
kampus jadi makin bisa melenggang pergi.
Sesampainya di sekolah,
Ciara langsung disambut oleh dua teman dekatnya, Inka dan Belladine. Mereka
langsung heboh dan bilang kalau Hugo, cowok yang tidak “akan” pernah bisa akur
sama Ciara ini, mencari Ciara. “Ra, Hugo nyariin lo tuh, lo berantem lagi sama
dia? Gara-gara apa? Mukanya itu loh, ih serem!”, ujar Inka nyerocos sendiri.
Ciara bingung, kenapa sih itu cowo selalu bikin ulah ke dia. Bel masuk
berbunyi, akhirnya Ciara, Inka dan Belladine masuk ke kelas dan melupakan
masalah Hugo yang tidak jelas itu.
Bel istirahat berbunyi, Hugo
yang jadi bahan pembicaraan pagi ini datang ke Ciara. Dia tarik tangan Ciara
dan tentu kayak yang dibilang Inka tadi, Hugo marah-marah ngebahas kenapa ada
nama dia di blog Ciara dan apalagi itu bawa-bawa cerita masa lalunya waktu
masih sama Qisti, sepupu Ciara yang pernah punya cerita manis dan lebih banyak
pahitnya sama Hugo. “Ra, apaan maksud postingan blog lo ini?”, teriak Hugo
sambil nunjukin print out postingan blog Ciara. “He?”, giliran Ciara yang
bengong. “Itu kan... postingan lama. Kok lo baru baca? Lagipula lo tau blog gue
darimana? Kalo lo tau postingan itu, berarti lo buka-bukain semua postingan di
blog gue dong?”, Ciara tidak mau kalah dari Hugo dan sedikit emosi. Hugo diam,
Mampus! Ketahuan deh nih kalo gue suka liat blog ini anak, umpat dia dalam
hati. “Udah deh ya ga penting juga gue tau ini darimana, yang jelas gue gak
suka ada nama gue apalagi bawa-bawa nama itu cewek dan cerita pahit gue sama
dia. Ngerti?!”, teriak Hugo sambil ngeloyor pergi, dia tidak mau semuanya makin
terbongkar. Inka dan Belladine bengong. Ciara makin emosi sesudah itu.
Karena moodnya sudah jelek,
Ciara batal pergi sama Inka dan Belladine yang sebelumnya sudah direncanakan.
Dia lebih memilih untuk di rumah buat balikin moodnya lagi. Bosan di kamar,
akhirnya Ciara punya ide buat main sepeda di kompleknya. Baru sampai di depan
gerbang rumahnya, dia sudah melihat Hugo lagi duduk disamping sepedanya di
lapangan basket komplek bersama teman-temannya yang juga teman-teman Ciara di
komplek meskipun mereka semua cowok. “Ih kenapa sih ada tuh cowok lagi,
heran!”, gumam Ciara pelan. Dia bimbang mau tetap bersepeda atau bagaimana.
Sayangnya kebimbangan Ciara itu membuat salah satu dari sekumpulan cowok itu
menyadari keberadaan Ciara dan sepedanya itu. “Ciaraaa!! Gabung sini! Ngapain
diem doang disitu daritadi”, teriak Anov dari lapangan. Ciara makin terdesak
dan akhirnya dia pasrah menghampiri Anov yang termasuk teman curhatnya itu,
meskipun disitu ada si makhluk nyebelin yang bernama Hugo! Ergh!
“Hai semuanya”, sapa Ciara.
“Hallo cantik”, teriak mereka berbarengan kecuali Hugo. Dia melengos buang muka
dan itu bikin Ciara makin mengibarkan bendera perang ke cowok ini apalagi
setelah kejadian tadi pagi di sekolah. Rasanya pengen ngebom nih cowo, ujar
Ciara dalam hati. “Ra,lo mau sepedaan? Kemana?”, tanya Owi. “Iya nih, gue lagi
bete parah dan bosen jadi pengen sepedaan aja. Paling ke arah Citos, jadi kalo
gue gak cape, gue bisa sekalian ke sana kan lumayan tuh hehe”, jawab Ciara
panjang lebar. “Wih preman juga nih anak sendirian ke sana, mau ditemenin
gak?”, Annov menawarkan diri. “Gak usah Nov, gue bisa sendiri kok. Gue jalan ya
takut kesorean, daah semuanya”, Ciara langsung ngeloyor naik sepeda karena udah
males liat si Hugo itu dan dia juga takut kesorean.
Hugo Cuma bisa liat Ciara
pergi, dia khawatir sama Ciara, dia sendirian. Tentu dia seperti itu karena dia
memang suka dan bahkan sayang sama Ciara. “Guys, gue cabut ya. Baru inget
disuruh benerin kran sama nyokap, bye”, Hugo langsung ngeloyor pergi naik
sepedanya dan semua yang disitu bingung. Satu harapan Hugo, dia masih bisa
ngejar si gadis mungil nan cantik itu. Benar saja, baru sampai gerbang komplek
dia masih melihat Ciara yang naik sepeda sambil dengerin lagu. Gak kerasa Hugo
udah ngikutin Ciara sampai Citos, tujuan Ciara. Dia parkir sepeda dan masuk ke
Citos lalu duduk di Starbucks dan memesan pesanan favoritnya, vanilla latte
blended. Hugo akhirnya Cuma bisa melengos kesal, pengen kesitu juga, kehausan
tapi itu mustahil bisa-bisa dia dimakan sama Ciara.
Dua jam kemudian, tepatnya
sekarang sudah malam, Ciara keluar dari Citos. “Wah gila ya nih anak jam segini
masih nekat mau naik sepeda, sendirian pula!” kesal Hugo. Akhirnya dia
mengikuti Ciara lagi naik sepeda, karena dia tau daerah sini agak rawan kalau
naik sepeda sendirian apalagi dia cewek. Benar saja, di ujung belokan ada
sekumpulan anak seumuran mereka tapi rada gak jelas gayanya dan mereka
nyamperin Ciara. Ciara bingung, gak mau berhenti genjot sepedanya tapi mereka
makin nekat. Hugo langsung pengen nyamperin mereka tapi dia tidak boleh
gegabah, salah-salah nanti malah dia ngebahayain Ciara. Pas udah ada salah satu
dari mereka yang megang-megang tangan Ciara, Hugo langsung lari kesitu.“Heh!
Ngapain lo megang-megang tangan cewek gue!”, teriak Hugo. “Oh ini cewek lo?
Kenapa lo biarin sendirian. Kan sayang cewek cantik mulus gini”, kata salah
satu dari mereka sambil megangin Ciara. Ciara Cuma bisa diem buat tahan nangis
padahal dia setengah mati ketakutan. Hugo langsung menghajar mereka semua,
untung pernah ikut karate, syukurnya dalam hati. Tapi salah satu dari mereka
ada yang mengeluarkan pisau dan Ciara melihat itu. Dia langsung teriak ke Hugo,
“Hugo awas!”, tapi terlambat pisau itu sudah menggores lengan Hugo, cukup
dalam. Hugo teriak dan mereka semua kabur. Kini tinggal Hugo yang merintih
kesakitan dan Ciara. Ciara bingung harus bagaimana, akhirnya dia tekan nomor
untuk panggil ambulance dan dia memangku Hugo sekarang. “Hugo, sabar ya, Ciara
udah panggil ambulance”, ucap Ciara lirih sambil menangis. Tidak lama kemudian
ambulance datang.
Di rumah sakit, sudah ada
kakak Ciara, Mas Diaz dan mama papa Hugo, dan juga Annov dan Owi. Ciara
menceritakan kejadiannya ke Annov dan Owi. Ciara masih setengah shock. Tidak
lama kemudian, dokter memberitahu Hugo sudah siuman dan Ciara langsung permisi
untuk masuk ke dalam ruangan. Ciara masuk dan melihat Hugo yang tidur. “Hugo!
Ngapain sih ngikutin gue? Kan lo jadi celaka kayak gini tau gak! Idiot!”, marah
Ciara sambil menangis. Hugo sadar dan berusaha untuk senyum, “Ciara, kenapa
masih marah-marah sih? Kan udah ditolongin”, jawab Hugo dengan susah payah
karena sakit goresan tadi masih terasa perih. “Ya tapi kan lo jadi kayak gini.
Harusnya gue yang disini, Go”. Hugo tersenyum sambil memegang tangan Ciara.
“Yang penting peri kecil gue
selamat, gak kenapa-kenapa”, Ciara kaget. Peri?
Gak salah denger?
Mama Hugo masuk ke dalam
ruangan. Menanyakan keadaan Hugo, tapi cuma sebentar karena harus kembali ke
rumah lagi. Akhirnya Mas Diaz, Owi dan Annov yang gantian masuk. “Ciara, maafin
Hugo ya”, ujar Hugo lirih. “Loh kenapa? Kok minta maaf, Go?”, ujar Ciara
bingung. “Iya masalah yang Hugo marah-marah di sekolah itu. Hugo kan selalu
baca blog kamu terus Hugo liat postingan lama eh Hugo nemuin itu, emosi. Hugo
gak mau yang kamu inget itu cerita masa lalu aku sama Qisti. Aku maunya.......”,
Hugo penuh misteri tidak menyelesaikan kalimatnya. “Maunya apa?”, tanya Ciara
penasaran. “Maunya kamu posting cerita aku sama kamu”, jawab Hugo. “Yaudah
Ciara pasti posting kok cerita yang ini”, Ciara polos. “Ih bukan, maksud aku,
aku maunya cerita kita yang manis yang kamu posting di blog kamu. Aku sayang
kamu peri kecil. Aku sering nyari ribut sama kamu karena aku pengen selalu
deket kamu tau. Ciara mau ya jadi peri aku yang nemenin Hugo?”, jelas Hugo
panjang lebar yang bikin Ciara Cuma bengong. Kaget. “Mmm...sebenernya Hugo
nyebelin tapi Ciara suka, yaudah deh Ciara mau kok”, jawab Ciara gugup dan
malu. “Ehm! Kita dianggap patung pajangan nih ya”, mas Diaz nyeletuk sambil
diiringi tawa Owi, Hugo dan Annov. Akhirnya hari itu mereka resmi jadian, bukan
sebagai musuh lagi, tapi sebagai kekasih.



