Sore ini, Maycita sudah bisa menikmati suasana kamarnya. Pagi tadi dia sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan dan untungnya sore ini dia sudah bisa pulang. Kembali ke kamarnya, sunyi, memang suasana seperti ini membuat tenang, tapi bagi gadis yang kerap disapa May ini, kamar ini membuat pikiran dia berkecamuk. Tangannya meraba mengambil ponsel lalu jemarinya mulai mengetik.
Maycita: "Gue bosen"
Cia: "Kenapa sih? Hati lo sepi kali hahaha"
Maycita: "Sial. Hati gue ga sepi, banyak sih yang dateng pergi, dikira gue halte"
Cia: "Yah lo sendiri sih yang jadiin diri lo halte. Gimana orang memperlakukan kita tuh ya gimana kita mau diperlakuin sama mereka. Kita ngasih izin gak buat digitu dan diginiin"
Hening. Cia, sahabatnya yang selalu setia mendengar semua keluhan May selama ini, tanpa kenal waktu dan bosan. Cia selalu netral di setiap permasalahan yang dihadapi May, itu alasan kenapa May lebih memilih untuk membuang semua keluh kesahnya ke Cia. Lagi dan lagi, kata-kata Cia selalu berhasil membuat May ceming seketika. Entah karena itu benar atau menusuk, justru itu yang membuat May membuka matanya lebih luas lagi tentang kehidupan. Malas berpikir, May memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
Malam pun datang, May dikelilingi lembaran kertas. Menjadi mahasiswa di bidang design memang mengharuskannya untuk berkutat dengan lembaran kertas dan goresan diatasnya. Tapi malam itu dia mendapat tugas yang tidak biasa, sulit dan dia hampir menyerah diantara lembaran kertas yang berserakan itu. Ponsel May berbunyi, tanda ada pesan masuk, dari Sam. Akhir-akhir ini May dekat dengan Sam. Kampus mereka yang berdekatan menjadi salah satu faktor kedekatan mereka.
Sam: "May"
Maycita: "Ya?"
Sam: "Lagi apa?"
Maycita: "Lagi nugas nih. Lo?"
Ya, seperti biasa, Sam selalu singkat padat dan jelas kalau mengirim SMS. Tidak ada basa basi. Ponsel May berdering, kali ini panggilan masuk dari Sam. May meletakkan pensil yang daritadi menemaninya lalu menerima panggilan itu.
May: "Halo?"
Sam: "Woy...lagi apa lo?"
May: "Masih nugas nih"
Sam: "Sambil ngapain?"
May: "Nonton, main yaa gitu deh hehehehe"
Sam: "Tugasnya masih banyak?"
May: "Masih dan gue hampir nangis ngerjainnya"
Sam: "Hahaha mangat ya. Gue temenin deeh sampe selesai"
Obrolan itu terus berlanjut, May sambil melanjutkan tugasnya. Suasana kamar yang semula sunyi berubah menjadi ramai. Obrolan dan tawa May dengan Sam terdengar ke seluruh sudut kamar. Mereka bergantian cerita seolah-olah tidak akan pernah kehabisan topik untuk dibahas. Begitulah Sam, dia lebih menyenangkan bila bertemu langsung ataupun mengobrol, berbanding terbalik dengan SMS tadi. Tak terasa, sudah 2 jam mereka mengobrol di telepon, tapi tugas May tak kunjung selesai. Sesuai janji Sam tadi, dia akan menemani May mengerjakan tugasnya hingga selesai padahal jarum jam sudah melewati angka 12 dan nanti dia ada kuliah pagi.
May:"Tidur duluan gih lo. Besok kan lo ada kuliah pagi"
Sam:"Aah bawel ah. Udah selesaiin aja sana dulu"
May:"Udah ngantuk kan lo?"
Sam:"Enggak sih beloman. Tugasnya masih banyak?"
May:"Masih hiks"
Sam:"Nanti kalo udah selesai foto yaaaa"
May:"Iyaa ah tapi berantakan ah malu"
Sam:"Udah gapapa koook"
May:"Udah sana tiduur. Besok kesiangan loh"
Sam:"Gue tidur jam 3 gue bakal tetep bangun pagi juga kok tenang aja. Besok paling berangkat mepet aja"
Suara Sam sudah berubah menjadi lebih lemah, May tahu Sam sudah mengantuk tapi Sam tetap tidak mengaku padahal sudah berulang kali May menyuruh dia tidur duluan. Sam sudah banyak diam, tak seaktif diawal pembicaraan. May juga semakin merasa tidak enak dengan Sam dan berusaha secepat mungkin menyelesaikan tugasnya. Jarum jam hampir menuju ke angka 1 dan May berhasil menyelesaikan tugasnya.
May:"HAAA UDAH SELESAII!!"
Sam:"Udah?"
May:"Iyaaa. Bobo yuk!"
Sam:"Yaudah yuk"
(hening..)
Sam:"May..."
May:"Yaaa?"
Sam:"Mau dimatiin apa bawa tidur nih?"
May:"Huahahaha bebas"
(hening..)
Sam:"Heh jangan senyum-senyum sendiri gitu ah"
May:"Eng.....gak kok"
Faktanya, May memang sedang senyum-senyum sendiri. Tidak diduga malam ini ditemani Sam hingga tugasnya selesai. Tidak hanya itu, Sam yang ternyata bisa menggambar bahkan lebih handal dari May juga membantu memberi saran apa yang harus dilakukan May pada tugasnya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan ini, malam terasa panjang dengan obrolan dan tawa, meskipun hanya lewat suara, tapi itu lebih dari cukup bagi May. Setelah hening beberapa saat seperti remaja yang saling tidak mau menutup telepon.
Sam:"Good night May"
May:"Iyaa. Dadaaah"
Sam:"Udah nih dadah doang?"
May:"Hahaha makasih yaa udah ditemenin ngerjain tugas. Met bobo yaaa"
Sam:"Hehehe iyaa. Besok kabar-kabaran aja ya. Dadaaah"
Malam itu pun berakhir dengan senyuman dan wajah bahagia May. Tapi dia gelisah, memeluk guling di sampingnya. Ada perasaan takut, takut yang tiba-tiba menyelimuti perasaannya. Sambil menyebut nama Sam, dia gemetar, air matanya turun deras seketika, tangis pun pecah. "Takut...." gumamnya di dalam tangis. May takut jatuh. May merasakan hal yang tidak biasa. Jantungnya berdebar saat percakapan akhir sebelum menutup telepon tadi dengan Sam. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. May harus menahan dan melawan itu, pengalaman sebelum ini membuat dia takut untuk merasakan hal ini lagi. Dia melawan sebisa mungkin, memang sulit tapi dia harus melakukan itu. Akhirnya, mata yang sembab itu meredup dan May tertidur setelah malam yang panjang ini.
October 22, 2013
October 21, 2013
Malam dengan Senja
Sepi. Sunyi. Itu yang dirasakan Raihanun, yang akrab dipanggil Rai. Bukan keadaan sekitarnya, melainkan hatinya. Tidak perlu mencari tau apa penyebabnya, karena dia sendiri juga tidak tau mengapa. Dia gadis biasa yang hidup seperti layaknya gadis remaja yang mencoba untuk pindah ke fase dewasa. Ya, dia pernah merasakan bagaimana pahitnya berpisah atau bahkan, sering. Berpisah dengan orang yang sudah mengisi harinya berpuluh-puluh hari, saling berbagi, saling mengisi. Ya, sudah biasa. Tapi kali ini berbeda, bukan karena orang ketiga, bukan karena keluarga, tapi ini dari diri dia sendiri. Entah karena lelah, ingin menjelajah atau terlalu resah untuk maju ke depan dengan orang yang dia miliki sekarang. Dia menghadapi lagi. Menghadapi apa yang tidak diinginkan semua orang, yang dia sendiri tidak harapkan, perpisahan. Menutup rapat untuk yang lama, tapi dia belum berani membuka untuk yang baru. Mungkin bisa, tapi butuh waktu, dengan sekian banyak pelajaran yang sudah didapat selama ini.
Sore itu, kakaknya mengajak untuk berkenalan dengan temannya. Ya, hanya berkenalan. Mengingat sekarang seorang Rai yang sekarang telah berubah drastis menjadi cuek dan tidak semanis dulu lagi. Senja, nama teman kakak Rai. Orangnya tidak terlalu tinggi, tidak terlalu tampan, dari fisik, Senja memang terlihat biasa saja. Rai dan Senja berkenalan dalam pertemuan singkat itu. Lalu perkenalan mereka berlanjut di messenger. Hanya dalam satu malam, Rai bisa menilai kalau Senja adalah orang yang sama seperti dia, cuek. Meskipun begitu, Rai tetap berhubungan dengan Senja melalu messenger.
Setelah beberapa hari, Senja mengajak Rai untuk bertemu. Rai menerima ajakan Senja dengan berpikir bisa menghilangkan rasa penat dari berbagai kesibukannya. Mereka berencana untuk bertemu di sebuah cafe yang terletak di daerah strategis, mengingat jarak rumah mereka berdua yang terbilang cukup jauh. Namun entah bagaimana, tujuan mereka berpindah haluan, bukan ke tempat awal yang sudah disepakati, Senja mengajak Rai melihat pertunjukan musik kesukaannya. Rai tertarik dengan ajakan itu, pengalaman baru, pikirnya.
Ramai lalu lalang para remaja memenuhi tempat itu, dari pintu masuk hingga di dalamnya. Rai yang takut keramaian hanya bisa pasrah, menggantungkan nasib pada Senja yang saat ini ada di sampingnya. Bagaimana bisa mereka hanya berdua di tempat seramai ini, biasanya Rai pergi ke tempat ramai seperti ini hanya dengan teman-temannya, itu pun paling sedikit tiga orang. Rai yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikuti langkah Senja. Sambil menunggu pertunjukan musik itu mulai, Senja mengajak Rai untuk mencari tempat yang agak sepi agar bisa duduk melepas lelah setelah menerobos keramaian.
"Gapapa nih duduk di bawah? Gapapa merakyat gini?" goda Senja ke Rai. "Hahahaha gapapa kok. Seru dari sini bisa liat banyak orang" jawab Rai. Mereka duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa karena lelucon Senja ke Rai ataupun sebaliknya. Rai bergumam dalam hatinya, Senja tidak secuek yang selama ini dia kenal.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya pertunjukan itu dimulai, mereka mendekati panggung. Jujur, Rai memang sering mendengar dan melihat pertunjukan ini langsung sebelumnya, tapi Rai tidak terlalu hafal liriknya. Senja menyambut dengan sumringah saat musik dimulai. Rai yang berdiri di sebelah kanan Senja juga sumringah melihat ke arah panggung. Tak lama kemudian air menetes dari langit, gerimis. Senja melihat ke arah Rai,
Senja: "Gerimis nih, gapapa disini?"
Rai: "Gapapalah, baru mulai kan, masa neduh sih"(diiringi dengan senyum)
Senja: "Eh kok orang sekitar gue pada berduaan semua ya?"
Rai: "Ya emang kenapa, kan kita juga berdua"
Senja: "Maksudnya orang pacaran tau"
Rai: "Lha emang kenapa? Ngeledek lo ya? Jomblo sih"
Senja: "Hidih..."(melengos kesal)
Rai: "Eh lo hafal kan? Nyanyi dong!"
Senja: "Gamau ah"
Rai: "Ih gitu, yaudah"
Tak berselang lama, air yang menetes dari langit semakin banyak, hujan. Senja melihat lagi ke arah Rai yang sedang asyik melihat ke arah panggung.
Senja: "Hujan nih Rai"
Rai: "Iya nih. Terus kenapa?"
Senja: "Mau neduh apa disini?"
Rai: "Disini aja ah, kan tujuannya mau liat ini. Lagian masih ga terlalu deres kok"
Senja: "Geser sini pohonnya lebih rindang biar ga kena ujan"(sambil menarik lengan Rai)
Hujan semakin deras, Senja melihat lagi ke arah Rai yang masih asyik melihat panggung.
Senja: "Lo gabawa jaket atau apa gitu? Sapu tangan?"
Rai: "Jaket gabawa. Eh tunggu, gue kayaknya bawa saputangan"(merogoh tasnya)
Senja: "Tuh bawa, sini pake buat di kepala lo"(sambil memasang saputangan ke kepala Rai)
Rai masih asyik ke arah panggung sedangkan Senja sibuk melirik Rai berulang kali sampai akhirnya dia meletakkan tangannya ke atas saputangan yang ada di atas kepala Rai. Rai tersenyum tapi tetap melihat ke arah panggung. Senja mulai ikut bernyanyi mengikuti irama musik serta para penonton yang juga ikut bernyanyi bersama. Langit mungkin mendengar alunan musik yang menenangkan jiwa beserta liriknya yang menyentuh hati dinyanyikan dengan lantang oleh para penonton sehingga hujan turun semakin deras. Senja menawarkan Rai untuk berteduh, tapi Rai menolak. Dia masih ingin di tempat itu, menikmati suasana hujan diiringi lagu yang menurutnya menyejukkan jiwanya yang lagi tak menentu. Senja menangguk lalu meneruskan mengikuti syahdunya alunan musik dan menyanyikan liriknya. Hujan bertambah deras, Rai masih enggan berteduh. Senja akhirnya pindah berdiri ke belakang Rai, menaruh kedua sikunya di bahu Rai agar dia bisa menutupi kepala Rai dengan kedua tangannya. Rai merasakan Senja menaruh dagunya diatas kepala Rai. Rai yang terlalu asyik menikmati alunan lagu, tidak mempermasalahkan itu. Senja menyanyikan lagu mengikuti nyanyian penonton sekitar, tapi sekarang dia bernyanyi tepat di telinga Rai, seolah ia berkata untuk Rai.
"Malam jadi saksinya
Kita berdua diantara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian........"
Hujan lagi lagi bertambah deras. Rai masih enggan meneduh. Senja setengah memaksa tapi Rai tetap tidak mau. Penonton mulai berhamburan untuk mencari tempat berteduh. Senja masih pada posisinya yang sama, melindungi kepala Rai dari air hujan meskipun dia sudah mulai basah. Senja ikut bernyanyi lagi dengan penonton lainnya dan tepat di telinga Rai lagi untuk kedua kalinya. Tapi kali ini berbeda, Rai tahu dia bernyanyi dari hatinya. Tulus, bukan hanya ingin ikut bernyanyi bersama penonton lainnya.
"Aku ingin bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu........"
Rai bergetar. Terlalu meresapi alunan musiknya yang begitu menyayat hatinya. Rai merasakan dagu Senja diatas kepalanya, Senja mencium kepalanya. Rai semakin bergetar. Entah kenapa. Hujan pun berubah menjadi deras seketika, Senja menarik memaksa Rai untuk meneduh, akhirnya Rai melunak.
Mereka berteduh berbabur dengan yang lainnya. Senja sibuk mengeringkan dirinya, Rai hanya bisa memandangi Senja yang basah karena melindungi dirinya dari hujan. Senja memegang baju Rai, basah. Senja menepuk baju Rai yang basah dengan tissue agar basahnya berkurang. Rai hanya bisa tersenyum.
Tidak lama Rai meminta keluar dari tempat mereka berteduh itu, bosan. Tapi di luar masih hujan dan Rai tetap nekad. Senja melepas kemeja yang dipakainya, menutupi Rai dengan kemejanya dan menukar saputangan lalu dipakai untuk menutupi kepalanya.
Rai: "Loh ini gapapa? Nanti lo basah gimana?"
Senja: "Gapapa kok. Yang lain juga gitu kan tuh. Gue pake saputangan aja buat nutupin kepala."(sambil merangkul Rai)
Pertunjukan malam itu selesai, hujan juga ikut berhenti. Rai mengembalikan kemeja Senja lalu langsung dipakai kembali oleh Senja. Basah.
Rai: "Yah basah ya"
Senja: "Gapapa kok yang penting kan ini ga basah"(sambil mengelus kepala Rai)
Rai: "Ih liat deh kemeja lo yang basah sebelah kanan, baju gue yang basah sebelah kirinya, lucu ya"
Senja: "Itu tandanya kan saling mengisi hehehe"
Rai: "Garing ah hahaha"
Malam itu, begitu cepat. Tak terduga. Rai merasakan yang tidak biasa, tapi dia berusaha mengelak, tidak untuk saat ini, waktunya tidak tepat. "Lawan, Rai!", gumamnya dalam hati.
Malam itu menjadi pengalaman baru bagi Rai, pertama kali dengan orang yang tidak dia sangka sebelumnya, dia mendapat pengalaman termanis di hidupnya. Di bawah hujan, dengan orang yang baru dikenalnya beberapa hari terakhir, yang berusaha melindunginya dari hujan. Rai terus melawan meskipun sulit. Cukup baginya untuk jatuh dalam waktu singkat karena tak ingin lagi ada perpisahan dalam waktu singkat. Pengalaman sudah memberi banyak pelajaran bagi Rai. Biarkan dirinya tumbuh dengan sendirinya, yang sekarang harus dilakukan adalah memberanikan diri untuk tumbuh dan maju ke masa depan tanpa harus takut dan dibayangi kelebihan yang dimiliki orang lain.
March 10, 2013
Roller coaster
When you decided to do something, apalagi yang bender-bener susah banget untuk dilakuin, tapi tiba-tiba itu semua gagal dilakuin, rasanya gimana?
Mungkin bakal kesel, tapi kok gue malah kayak diantara seneng tapi bingung. Serius deh.
Roller Coaster. Nah, this is the reason why everything happened.
Roller Coaster itu kadang bawa kita ke titik paling rendah tapi seketika juga bawa kita ke titik tertinggi.
Seketika loh seketika. Bisa bayangin?
Disaat udah dibawa ke titik terendah, lo memutuskan buat mundur dan gak ngelanjutin lagi. Tapi seketika roller coaster itu muncul lagi dan bawa lo seketika itu juga ke titik tertinggi. Ngebingungin kan? But, you must go flow with it. Gak bisa ngehindar.
Kadang juga roller coaster itu haru kita ucapin terima kasih karena udah bawa kita ngalamin hal yang baru yang belum pernah kita rasain.
Makin bingung gak kita harus ngapain? Harus kesel atau seneng? Harus nyesel atau berterimakasih?
Honestly, gue seneng dan berterimakasih. Tapi setelah itu, bingung harus gimana lagi.
Gue abis baca novel "Montase" karya Windry Ramadhina. Ceritanya bagus banget, bisa maksa kita ngeluarin tetesan air mata. Seriously.
Tapi gue bisa ambil hikmah yang sama juga kayak apa yang gue rasain ke roller coaster ini, kita gak akan tau kapan cinta bisa datang, gak akan tau kita jatuh cinta sama siapa, kita bisa jatuh cinta sama orang yang sama sekali kita gak akan sangka, cuma karena lo sering bareng dia. Bedanya kalo gue gak sering bareng, tapi beberapa kali doang.
Terus, kita gak akan tau juga apa yang bakal terjadi sama orang yang kita suka itu, kadang moment kita bareng dia bisa aja jadi moment terakhir kita bareng dia dan saat kita juga baru sadar kalo kita itu bener-bener cinta sama orang itu tapi kita gabisa bareng lagi padahal orang itu bener-bener bawa perubahan yang drastis banget ke diri lo jadi lebih baik. Sakit gak? Nyesek gak?
Gue gak mau sampe kayak gitu. But, I don't know what should I do now. Nyebelin kan?
March 7, 2013
Terlalu
Suasana hati masih gonjang-ganjing.
Tugas pun mulai menyapa dengan manisnya.
But, friends are the best medicine. Finally, akhirnya bisa ketemu Niken buat cerita, itu bikin gak terlalu inget apa yang terjadi ehehe even just for a while....
I had a plan to move to another dormitory, anyway. Gak tau karena pengen suasana baru dan pengen ngerefresh semuanya atau kenapa. Entah alasannya kenapa.
I tried to shuffling my playlist on itunes and I found a song from Maliq&d'essentials, "Terlalu".
Kalo didengerin pas lagi diem dan diresapin liriknya, itu bener-bener sama banget sama apa yang lagi gue jalanin.
So, "Jalanin dan nikmatin, mungkin itu yang terbaik untuk saat ini"
Love.
Tugas pun mulai menyapa dengan manisnya.
But, friends are the best medicine. Finally, akhirnya bisa ketemu Niken buat cerita, itu bikin gak terlalu inget apa yang terjadi ehehe even just for a while....
I had a plan to move to another dormitory, anyway. Gak tau karena pengen suasana baru dan pengen ngerefresh semuanya atau kenapa. Entah alasannya kenapa.
I tried to shuffling my playlist on itunes and I found a song from Maliq&d'essentials, "Terlalu".
Kalo didengerin pas lagi diem dan diresapin liriknya, itu bener-bener sama banget sama apa yang lagi gue jalanin.
"Tak bisa terus menerus engkau menjaga
Perasaan hati yang terlena
Semakin lama semakin menyiksa
Aku tak ingin terus terbelenggu
Dengan pikiran tak menentu
Sungguh aku tak bisa
Membuatku terlalu jauh mengkhayalkan tentang kita
Ku di sini sepertinya masih berharap
Meski tak mungkin ku menunjukkannya
Kenyataannya membuatku sedikit gila....."
So, "Jalanin dan nikmatin, mungkin itu yang terbaik untuk saat ini"
Love.
March 3, 2013
Reality
Hai. Selamat hari minggu malam(:
Memutuskan untuk tetap di rumah dan balik ke kostan senin malam.
Dengan harapan bisa jauh dari perasaan kacau ini. Reality? Tetep aja dateng perasaan kayak gini.
Padahal udah menghindar. Tapi.......ah sudahlah
Dan malam ini juga masih didominasi dengan lagu "Tahu Diri"
Lama-lama liriknya bisa ngebunuh deh kayaknya ha ha LOL
Memutuskan untuk tetap di rumah dan balik ke kostan senin malam.
Dengan harapan bisa jauh dari perasaan kacau ini. Reality? Tetep aja dateng perasaan kayak gini.
Padahal udah menghindar. Tapi.......ah sudahlah
Dan malam ini juga masih didominasi dengan lagu "Tahu Diri"
Lama-lama liriknya bisa ngebunuh deh kayaknya ha ha LOL
".....Aku sampai dibagian
bahwa aku telah jatuh cinta.
.....Seseorang yang hadir
bagai sekelebat bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi
isyarat sehalu udara, langit, awan,
atau hujan"
(Hanya Isyarat from Rectoverso, Dee)
Just remember, "If everything has been written down, so why we worry, we say it's you and me with a little left of sanity" -someone
With Love.
March 1, 2013
First March
Hai. Apa kabar?
Pagi ini, pagi pertama di bulan Maret ya. So,welcome March! Be nice, please? (:
Awal bulan yang menyenangkan, semoga sampai akhir Maret nanti bisa terus menyenangkan, kalo gak bisa, ya seenggaknya dominan menyenangkanlah, Amen.
Mungkin sekelibat udah banyak rencana di bulan ini. Tapi berjalan atau enggaknya, siapa yang tau? Kita cuma bisa buat rencana kan?
Beberapa resolusi bulan ini, baca beberapa novel dan mulai rutin blogging lagi kalau memang memungkinkan bagi waktu dengan kegiatan yang penting atau bahkan yang berubah jadi dipenting-pentingkan.
Last night, I stayed at my friend's dormitory. Sedikit hiburan dari sepinya di kostan dan quality time bareng my girls juga hehe
Btw, thank you soooo much to Indah who helped me to beautify my page after long long time I used a standard template hehe
Let's start this month with laugh and love all people around you. Don't forget to love yourself first, okay?
Love.
Pagi ini, pagi pertama di bulan Maret ya. So,welcome March! Be nice, please? (:
Awal bulan yang menyenangkan, semoga sampai akhir Maret nanti bisa terus menyenangkan, kalo gak bisa, ya seenggaknya dominan menyenangkanlah, Amen.
Mungkin sekelibat udah banyak rencana di bulan ini. Tapi berjalan atau enggaknya, siapa yang tau? Kita cuma bisa buat rencana kan?
Beberapa resolusi bulan ini, baca beberapa novel dan mulai rutin blogging lagi kalau memang memungkinkan bagi waktu dengan kegiatan yang penting atau bahkan yang berubah jadi dipenting-pentingkan.
Last night, I stayed at my friend's dormitory. Sedikit hiburan dari sepinya di kostan dan quality time bareng my girls juga hehe
Btw, thank you soooo much to Indah who helped me to beautify my page after long long time I used a standard template hehe
Let's start this month with laugh and love all people around you. Don't forget to love yourself first, okay?
Love.
February 28, 2013
Hello again from me
Hello, long time(again) no see ya (:
I've passed my hectic phase. my heart, my mind, my life was sooooo complicated.
they come and gone. yap. sesuka hati, tanpa mikirin gimana perasaan yang ditinggalin.
emang sih itu termasuk proses seleksi alam. ya tapi kan gak gitu juga. setuju?
oya, semester pertama kuliah udah berhasil gue lewatin loh. IPK 3,09 mengantarkan gue ke liburan yang tenang, yap cukup tenang apalagi dengan status gue sekarang ya hehe
kegiatan seabrek makin seabrek di semester dua ini, mata kuliah yang makin riweh dan keikutsertaan gue di kepanitiaan 2 event kampus ditambah proker himpunan yang belum rampung, jadi paket lengkap di semester dua ini.
bytheway, 2minggu liburan(yang bersih liburan tanpa 1haripun ke kampus) singkat banget. sampe gue mesti nyolong waktu weekend minggu pertama kuliah buat liburan 2 hari ke Bandung. dan sehari sebelum gue berangkat, ada Brightspot market dan alhasil, uang bulanan gue ludes bersih tak tersisa padahal masih tersisa satu minggu lagi sebelum awal bulan.
love life? ha ha I'm sensitive with that. cuma bisa nanggepin "au ah". udah deh. selesai (:
sekarang satu kalimat "let it flow", jalanin yang udah ada aja. hasil akhirnya kan udah dirancang Tuhan dengan sedemikian rupa. cuma jalan menuju kesananya aja yang mungkin ribet. ada pilihan? pasti kok. itu pasti ada, namanya juga hidup, banyak pilihan kan? dan yang pasti, sesuatu yang gak mungkin selalu bisa jadi mungkin kalo itu udah jalannya. jalanin aja, nikmatin. banyak kok temen-temen deket yang selalu peduli dan selalu ada kalo emang lagi sepi ataupun jenuh. karena itu proses, proses hidup untuk ngedapetin yang terbaik ke depannya. wish me luck (:
I've passed my hectic phase. my heart, my mind, my life was sooooo complicated.
they come and gone. yap. sesuka hati, tanpa mikirin gimana perasaan yang ditinggalin.
emang sih itu termasuk proses seleksi alam. ya tapi kan gak gitu juga. setuju?
oya, semester pertama kuliah udah berhasil gue lewatin loh. IPK 3,09 mengantarkan gue ke liburan yang tenang, yap cukup tenang apalagi dengan status gue sekarang ya hehe
kegiatan seabrek makin seabrek di semester dua ini, mata kuliah yang makin riweh dan keikutsertaan gue di kepanitiaan 2 event kampus ditambah proker himpunan yang belum rampung, jadi paket lengkap di semester dua ini.
bytheway, 2minggu liburan(yang bersih liburan tanpa 1haripun ke kampus) singkat banget. sampe gue mesti nyolong waktu weekend minggu pertama kuliah buat liburan 2 hari ke Bandung. dan sehari sebelum gue berangkat, ada Brightspot market dan alhasil, uang bulanan gue ludes bersih tak tersisa padahal masih tersisa satu minggu lagi sebelum awal bulan.
love life? ha ha I'm sensitive with that. cuma bisa nanggepin "au ah". udah deh. selesai (:
sekarang satu kalimat "let it flow", jalanin yang udah ada aja. hasil akhirnya kan udah dirancang Tuhan dengan sedemikian rupa. cuma jalan menuju kesananya aja yang mungkin ribet. ada pilihan? pasti kok. itu pasti ada, namanya juga hidup, banyak pilihan kan? dan yang pasti, sesuatu yang gak mungkin selalu bisa jadi mungkin kalo itu udah jalannya. jalanin aja, nikmatin. banyak kok temen-temen deket yang selalu peduli dan selalu ada kalo emang lagi sepi ataupun jenuh. karena itu proses, proses hidup untuk ngedapetin yang terbaik ke depannya. wish me luck (:
Subscribe to:
Comments (Atom)

