Pelangi duduk termenung memandangi taman rumahnya dari jendela kamarnya yang dihiasi ornamen bunga berwarna merah jambu. Kalimat tadi terus memenuhi pikirannya. Masih tidak menyangka seniornya sejak dari SMP yang sudah dia anggap menjadi "kakak" sendiri mengucapkan kalimat itu, "Aku sayang kamu Gi. Kamu mau gak jadi pacar aku?"
Ia terperanjat kaget bercampur senang dan bingung mendengar kalimat itu. Jingga, seniornya itu memang dekat dengan dirinya sudah beberapa tahun belakangan ini, tapi mereka berdua tidak sekalipun pernah bertemu langsung, hanya chatting. Pernah juga video call, itupun bisa dihitung jari.
Tapi tidak kali ini, beberapa hari yang lalu Jingga sudah tiba di kampusnya secara mendadak dan Pelangi pun tidak bisa menghindar beralasan lagi. Ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung. Tidak berlama-lama, Jingga menyuruh Pelangi untuk masuk ke mobil. Jingga mengemudikan mobil keluar dari tempat parkir itu.
Pelangi: "Duh, maaf ya lama nunggu. Tadi harus presentasi mendadak eh ada rapat acara juga ternyata"
Jingga: "Iya gapapa kok. Lagian juga tadi sempet muter-muter dulu juga"
Pelangi: "Iya maafin ya duh jadi gaenak banget deh kak"
Jingga: "Gapapa kok. Mau berapa lamapun pasti aku tungguin kok buat adekku hehehe"
Jingga: "Gapapa kok. Mau berapa lamapun pasti aku tungguin kok buat adekku hehehe"
Pelangi: "Hehehehe bisa aja nih si kakak. Eh btw ini kita mau kemana deh? Makan? Apa kemana?"
Jingga: "Boleh tuh makan. Aku laper abis nungguin orang berjam-jam. Tapi aku gatau daerah sini"
Pelangi: "Tuhkan duh maafin aku ya kak maafin....hem yaudah aku tau kok makan dimana yang enak"
Jingga: "Hahahaha bercanda kok. Yaudah tunjukin jalannya ya ke aku"
Hening suasana setelah percakapan itu. Pelangi merasa ada mata yang mengawasi dia dari samping yang tidak lain adalah pandangan mata Jingga yang menatap wajahnya.
Pelangi: "Dih ngapain liat-liat?"
Jingga: "Gapapa kok. Ternyata kamu lebih cantik aslinya ya dek hehehehe"
Pelangi: "Hahahha bisa aja deh si kakak mah"
Keadaan jalan sedang bersahabat membuat mereka cepat tiba ke cafe yang mereka tuju. Alih-alih kelaparan, Jingga pun memesan makanan diikuti oleh Pelangi, sore itu cepat berlalu dengan obrolan yang membuat mereka larut dalam suasana nyaman.
Jingga: "Kenyang! Abis ini kita foto yuk dek"
Pelangi: "Iya samaa aku juga kenyang kaaak hahaha boleh yuk tapi dimana?"
Jingga: "Hem disini aja"
Pelangi: "Ih gelap tau ga keliatan apa-apa"
Jingga tetap nekad untuk foto berdua dengan Pelangi meskipun hasilnya agak gelap. Lalu beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di depan rumah Pelangi,
Jingga: "Tunggu dek sebentar jangan turun dulu"
(merogoh kursi belakang mobil)
Pelangi: "Ada apaan sih?"
Jingga: "Nih buat kamu"
(menyodorkan benda)
Pelangi: "Waah apa ini? Ih lucu ini buat aku?"
Jingga: "Iyaa buat kamu hehehe semoga suka ya"
Pelangi: "Suka kok hehe makasih kakaak. Aku masuk dulu ya udah malem nih. Hati-hati ya kak"
Jingga: "Iya sama-sama. Okedeh dek daaah"
Malam itu berakhir, Pelangi mengakhiri hari itu dengan memejamkan mata sambil tersenyum, iya, Jingga alasannya. Semua kriteria laki-laki yang selama ini ia cari ada pada sosok Jingga yang baru saja ia temui satu kali ini, hari ini, sore tadi.
Dua hari kemudian, jam menunjukkan pukul 6 pagi, Pelangi yang terbangun melihat hpnya dan ada sms dari Jingga,
"Dek Gigiii tebak dong sekarang aku dimana"
Pesan itu beberapa menit yang lalu, dengan setengah mengantuk, Pelangi membalasnya,
"Emang dimana?"
Jingga sekejap membalas,
"Di depan rumah kamu:)"
Pelangi terkejut dan langsung keluar menuju balkon kamarnya dengan rambut seadanya, muka bantal dan piyama. Benar, Jingga ada di depan rumahnya. Pelangi dengan terburu-buru keluar dari kamarnya, setengah berlari menuruni tangga lalu keluar rumah menghampiri Jingga.
Pelangi: "Kak kok dadakan banget sih? Ada apa masih pagi gini udah disini?"
Jingga: "Gapapa kok hehehe kaget gak aku udah disini?"
Pelangi: "Iyalah. Duh maaf ya acak-acakan masih bau iler juga nih akunya"
Jingga: "Ih gapapa tetep cantik kok"
Pelangi: "Hahahaha bisa aja"
Pelangi: "Hahahaha bisa aja"
Jingga: "Iya Gi sebenernya aku mau minta tolong"
Pelangi: "Tolong apa deh kak?"
Jingga: "Nih aku ga ngerti ini kenapa drawing pad aku gabisa di connect ke laptop aku"
Pelangi: "Ah masa sih? Mana barangnya?"
Jingga: "Itu di belakang kamu coba cekin deh"
Tanpa ada perasaan curiga sama sekali, Pelangi mengecek barang tersebut dan ternyata dia menemukan tulisan "Kamu mau gak jadi pacar aku?" Pelangi terkejut, perasaannya campur aduk.
Jingga: "Udah dicek?"
Pelangi: "Emm udah emm...."
Jingga: "Iya dek aku sayang sama kamu. kamu mau jadi pacar aku?"
Pelangi: "Waw...emm...emm...aku harus jawab sekarang engga?"
Jingga: "Engga sih. Kalo gamau juga gapapa. Kalo jawab juga gapapa kok"
Pelangi: "Aku jawabnya nanti aja ya abis kita UAS. Aku gabisa mikir jernih nih. Gapapa kan kak?"
Jingga: "Iya gapapa kok dek hehehehe"
Pagi itu berhasil membuat Pelangi bingung campur aduk. Di satu sisi dia senang dan mempunyai rasa sayang pada Jingga, tapi di sisi lain dia harus bertanya pada teman-teman terdekatnya terutama mamanya tentang hal ini. Pelangi tidak ingin gagal lagi, ia lelah harus memulai semua lagi dari awal, penyesuaian lagi, dia lelah. Memang Pelangi menjadi selektif pada laki-laki yang mendekatinya. Dia tidak ingin hanya sekedar hubungan yang judulnya "have fun". Itu menjadi beban dan membuat dia bimbang, bimbang akan jawaban dari pertanyaan tersebut.
(to be continued...)
